Bayu Daily Blog

Saturday, October 13, 2018

Hari Ini, 4 Tahun Usia Pernikahan Kami

4 Tahun Usia Pernikahan Kami (Bayu dan Risky) - Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa hari-hari kami lalui bersama. Perasaan baru kemarin bertemu. Perasaan baru kemarin kenalan. Perasaan baru kemarin aku menemui orang tuamu untuk mengatakan keseriusanku padamu. Perasaan juga baru kemarin kita ijab qabul. Tak terasa, hari ini, 4 tahun yang lalu, 12 Oktober 2014 aku mempersuntingmu. 2 tahun sebelumnya, pada tahun 2012 aku mengenalmu. Hari ini, 4 tahun usia pernikahan kita. Singkat, begitulah agaknya perjalanan cinta ini.
Bayu dan Risky
Foto: 4 Tahun Usia Pernikahan Bayu dan Risky
Bermula perkenalan kita di Mataram,  Lombok, Nusa Tenggara Barat. Mataram, ibu kota provinsi tempat dimana pusat roda perekonomian digerakkan, juga sebagai pusat pemerintahan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Waktu itu seingatku, aku merasa orang Medan satu-satunya di Lombok, tepatnya di Kota Mataram,  tempat aku mulai mencari pengalaman, bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Kurang dari satu tahun mutasi kerjaku dari Bali ke Lombok. Hari-hari kulalui tanpa pernah terpikir untuk mencari pasangan hidup sebelumnya. Boro-boro mau kenal atau cari kenalan orang asli Lombok untuk mencoba menawarkan jodoh, aku asik sendiri dengan pekerjaan. Karena memang belum terpikir jauh ke arah sana (Nikah). Nikmati hidup dulu aja, dalam hatiku, sambil mengais rejeki sebagai perantauan. Teringat pesan mamak sebelum aku memutuskan untuk merantau. "Kalau bisa nanti nikah sama orang Medan aja ya" pesannya. "Biar kalau mudik satu arah ke Medan" sabungnya menasehati ku. Tepatnya di 2011, aku pamit dengan kedua orang tuaku. Dari sini awal mula perjalanan hidupku di kota orang. Luar pulau lebih tepatnya, benar-benar jauh dari orang tua.

Seingatku dibulan September 2011, 7 tahun yang lalu. Aku merantau ke Bali bersama beberapa orang teman. Setibanya di Bali, seperti pikiranku sebelumnya, sebelum memutuskan ke Bali. Berawal dari keingin melihat Bali yang begitu memesona. Keindahan alamnya, pantai dan adat budayanya yang mendunia, sebagai salah satu icon pariwisata yang dimiliki Indonesia, Bali sangat tepat untuk kita singgahi dan jelajahi. Begitu awal pikiranku. Akhirnya kesampean juga menginjakkan kaki di Pulau Dewata, istilah lainnya. Walau bukan sebagai pelancong atau turis, karena memang tujuan ku kesini untuk bekerja. Hari-hari kulalui dan tibalah giliranku mendapat kesempatan penugasan di Pulau seberang. Iya pulau seberang, pulau Lombok yang terletak diseberang pulau Bali kalau kita lihat dari peta. Perusahaan tempat aku berkerja memiliki kantor cabang pemasaran di Lombok, tepatnya di Kota Mataram.

Sesuai jadwal, aku berangkat ke Lombok. Selang beberapa bulan berlalu, tak sengaja aku berkenalan dengan wanita yang sekarang menjadi istri ku. Tidak sengaja dalam sebuah event di pusat perbelanjaan di Kota Mataram, aku bertemu dan berkenalan dengan wanita berkerudung. Sempat terpikir, sekilas terlihat bukan orang asli Lombok. Ternyata dugaanku benar, karena stan kami yang hanya bersebelahan, mau tak mau harus bertegur sapa, hingga saling mengenal. "Asli mana mbak?" Tanyaku serius sambil tersenyum. "Medan Bang" jawabnya lembut dan tersenyum. Kesan pertama berasa punya saudara, saudara sewilayah (Medan). Karena beberapa hari terus dalam satu event, sampai akhirnya berujung ke arah yang lebih serius.

Singkat cerita, sampailah dihari mendekati Lebaran Idul Fitri, aku mudik dan kebetulan dia tidak. Kusampaikan pada wanita itu, bahwa aku ingin menemui orang tuanya, hendak melamar.

Akanku cari tempat tinggal orang tuamu. Akan kusampaikan pada orang tuamu, aku serius ingin melamarmu. Diapun mengiyakan. 

Sampailah aku dikampung halaman, Sumatera Utara, Medan. Kutemui orang tuanya yang tinggal di Tanjung Morawa, Deli Serdang. Pertemuan ini tampaknya memberikan 'lampu hijau' setelah bertemu dan berbicara serta mengutarakan maksud dan tujuan baik tanpa basa basi. Ada harapan walau tidak menghasilkan jawaban jelas, karena orang tuanya tentu ingin mengkonfirmasi terlebih dulu ke anaknya, tapi walaupun demikian, setidaknya ya aku dapat angin segar walau sedikit kena polusi udara, maklum perkotaan, bukan pedesaan atau pegunungan yang jauh lebih sejuk, hehe.

Setelah kembali ke Lombok. Akhirnya pada kesempatan berikutnya orang tuaku datang ke rumah orang tuanya kembali untuk mengutarakan maksud dan tujuan yang lebih serius lagi, sembari memberikan bingkisan semacam lamaran, ini sambungan dari kedatangan ku sebelumnya. Dan akhirnya pembicaraan sampai mengarah ke tanggal rencana pernikahan. Alhamdulillah tahun depan tak terasa, berlalu begitu singkat, sampai akhirnya dia pulang duluan sebelum akhirnya aku menyusulnya. Ia pulang duluan untuk mengurus berkas-berkas persiapan menikah kami, begitu juga denganku yang tak lama berselang menyusul kepulangan. Semua proses beres, berjalan dengan lancar hingga akhirnya kami ijab qabul, menikah, sah. Tepatnya 12 Oktober 2014. Dan kini 12 Oktober 2018. Sudah 4 tahun pernikanan kami. Alhamdulillah, puji syukur, kami dikaruniai anak laki-laki, yg lahir di tahun kedua usia pernikahan kami. Kami beri nama Baryl Ar Rasyiid Pradana. Biasa kami panggil Bang Rasyiid. Eyangnya lebih suka panggik Arrasy. Kini usianya sudah menginjak 2 tahun 6 bulan kurang 10 hari. 

Begitulah perjalanan hidup yang tampak singkat karena dinikmati dan dijalani berasama. Semoga akan berlangsung awet hingga maut memisahkan, aamiin. Terima sudah membaca artikel sederhana tentang perjalanan hidup kami. Semoga ada manfaatnya. Salam

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar sobat disini! Berkaitan dengan artikel diatas ya. Terima kasih

Mitsubishi Denpasar